Makna di Balik Penayangan Iklan
Kampanye
Oleh: Armi Susanti
Oleh: Armi Susanti
Demokrasi di Indonesia telah
memberikan hak kepada masyarakat untuk memilih sendiri pemimpinnya. Dengan diberlakunya sistem ini para politikus
pun berlomba-lomba untuk mendapatkan simpati dari masyarakat. Baik secara
langsung maupun tidak langsung masyarakat akan di tawarkan janji-janji yang
belum tentu akan ditepati oleh para calon pemimpin. Melalui kampanye mereka
akan melakukan persuasi politik terhadap masyarakat. Mereka akan berlomba untuk
mempromosikan dan mempublikasikan diri mereka.
Menurut
Ashadi Siregar (2006) kampanye melalui media, terutama media massa hanya akan
mengalirkan dana ke industri media. Bagian terbesar dan belanja kampanye
digunakan untuk membeli halaman media cetak dan jam siaran media penyiaran.
Kampanye kemudian dijadikan sebagai ajang pencitraan demi terpilihnya mereka
dalam pemilu nanti.
Kampanye dengan menggunakan media massa dianggap
efektif untuk menarik simpati dari masyarakat. Iklan yang menghadirkan sosok
calon pemimpin di media cetak maupun media elektronik akan semakin banyak
ketika menjelang pemilihan. Iklan tersebut akan memuat profil tentang calon
pemimpin, visi-misi, dan tentunya motto calon pemimpin yang bertujuan
mempersuasi masyarakat untuk memilihnya.
Dari penayangan iklan kampanye calon pemimpin
rata-rata akan selalu menghadirkan pesan yang bermakna seseorang yang merakyat.
Seperti calon pemimpin yang datang ke pasar tradisional yang begitu akrab
dengan para pedagang, ke lokasi pertanian, perkebunan atau di lokasi nelayan.
Pemimpin di sini digambarkan yang seakan-akan selalu dekat dengan masyarakat,
yang tau akan keinginan dari rakyat dan yang akan mewujudkan harapan-harapan
masyarakat. Slogan atau motto juga bermakna demikian berisikan kata-kata yang
penuh harapan dan yang menyentuh masyarakat. Tak hanya dari segi pesan yang
dimuat iklan-iklan kampanye juga dibuat semenarik mungkin. Dengan tampilan yang
kreatif akan menambah nilai tersendiri bagi masyarakat yang melihatnya.
Pada dasarnya iklan yang dibuat oleh para calon pemimpin
merupakan bentuk dari pencitraan diri. Masyarakat akan disuguhkan iklan
kampanye yang mempunyai makna pesan dan masyarakat dibiarkan untuk
menginterpretasikan sendiri. Penayangan iklan kampanye calon pemimpin akan
mempersuasi masyarakat untuk memilihnya dengan konten iklan yang menarik dan
kreatif.
Daftar Pustaka
Siregar, Ashadi, 2006. Etika Komunikasi,
Yogyakarta: Pustaka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar